BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Kabupaten Trenggalek merupakan salah satu Kabupaten yang terletak di
bagian selatan wilayah Propinsi Jawa Timur yang sebagian besar terdiri dari
tanah pegunungan dengan luas meliputi 2/3 dari luas wilayah sedangkan sisanya
merupakan tanah dataran rendah. Berdasarkan Informasi Kinerja Pengelolaan Lingkungan
Hidup Daerah (IKPLH) Kabupaten
Trenggalek Tahun 2017, salah satu isu prioritas yang terjadi di Kabupaten
Trenggalek adalah banjir.
Banjir merupakan salah satu bencana yang kerap melanda saat musim penghujan
tiba. Di Kabupaten Trenggalek hampir setiap tahun selalu terjadi banjir. Banyak
penyebab yang menimbulkan terjadinya banjir. Namun kita sering kali melupakan
bahwa banjir bisa saja terjadi akibat hal sepele, namun berdampak luas. Ada
beberapa penyebab yang dapat menimbulkan banjir, salah satunya karena adanya
penyumbatan aliran sungai atau selokan. Terutama sekarang ini banyak sekali
masyarakat yang gemar membuang sampah di sungai. Sehingga sewaktu waktu sampah
yang menumpuk bisa mengakibatkan banjir.
SMA Negeri 2 Trenggalek dan lingkungan sekitar selalu menjadi langganan
banjir. Salah satu penyebab banjir di sekitar lingkungan SMA Negeri 2
Trenggalek adalah penyumbatan aliran sungai atau selokan yang di sebabkan oleh sampah an organik. Hal
ini terjadi karena belum banyak yang memanfaatkan atau mengelola sampah an
organik. Jika masyarakan sudah melaksanakan 3R (reuse, redust, recycle)
seharusnya bencana banjir bisa di hindarkan.
Melihat hal tersebut, penulis sebagai guru mata pelajaran Fisika
sekaligus pembina tim Adiwiyata Sekolah bertekad kuat untuk mampu melakukan
inovasi. Keinginan tersebut semakin kuat karena penulis juga dipercaya oleh
Bupati Trenggalek untuk menjadi salah satu tim pembina dan tim penilai sekolah
Adiwiyata tingkat kabupaten. Pada tahun 2017 saya juga mendapat penghargaan
dari kepala dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup (PKPLH)
sebagai Guru Pelopor Sekolah Peduli dan Berbudaya Lingkungan.
Selain itu banyak yang berasumsi bahwa ilmu fisika sangat sulit
diterapkan dalam kehidupan sehari-hari karena harus memiliki keahlian khusus
dan juga harus didukung oleh biaya yang besar, jika memang ingin
mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Padahal hal tersebut tidak
benar adanya
Dengan bermodal tekat kuat untuk melakukan inovasi pembelajaran maka
penulis bermaksud menerapkan materi fisika dalam kehidupan sehari - hari dengan
memanfaatkan sampah an organik yang ada di sekitar lingkungan SMA Negeri 2
Trenggalek untuk mengurangi banyaknya sampah an organik yang menjadi salah satu
penyebab terjadinya banjir, dan untuk membuktikan bahwa aplikasi fisika dalam
kehidupan sehari-hari itu ada yang mudah, murah, dan bisa diterapkan oleh siapa
saja asal ada kemauan yang kuat.
Selain itu, inovasi pembelajaran
ini juga bisa untuk menyiapkan peserta didik mampu menciptakan lapangan
pekerjaan baru, jika nantinya tidak bisa melanjutkan ke jenjang pendidikan
tinggi. Jadi bisa juga meminimalkan pengangguran pasca SMA, meskipun siswa SMA
disiapkan untuk melanjutkan pendidikan bukan disiapkan untuk bekerja.
B.
Fokus
Best Practice
Fokus kegiatan yang penulis jadikan sebagai best practice adalah
pendidikan life skill melalui pembelajaran fisika. Dengan penerapan
pembelajaran fisika yang peduli pada lingkungan khususnya materi fluida yang
menggunakan gejala kapilaritas sebagai
pijakan teori pemanfaatan sampah an organik sebagai media tanam alternatif.
C.
Tujuan
Tujuan dari diterapkannya kegiatan-kegiatan dalam best practice ini
adalah:
1. Melaksanakan pembelajaran fisika yang peduli
pada lingkungan
2. Mengurangi sampah an organik yang tidak
termanfaatkan
3. Menghasilkan media tanam alternatif dari
sampah an organik
4. Siswa memiliki keterampilan terapan
5. Menepis anggapan bahwa penerapan fisika dalam
kehidupan sehari-hari itu sulit, rumit, mahal dan butuh keahlian khusus.
6. Siswa nantinya mampu menciptakan lapangan
pekerjaan baru dengan modal penerapan ilmu fisika, jika nantinya tidak dapat
melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
D.
Manfaat
Manfaat dari dilaksanakannya kegiatan-kegiatan pada best practice ini
adalah:
1. Untuk guru
a) Memiliki rencana pelaksanaan
pembelajaran yang peduli lingkungan,
b) Memiliki
alat peraga dalam pembelajaran fisika
tentang gejala kapilaritas,
c) Memiliki karya inovasi yang bisa bermanfaat
untuk siswa, sekolah dan masyarakat
d) Mengurangi sampah an organik yang tdk
termanfaatkan
2. Untuk siswa
a. Dapat lebih mudah memahami materi fuida pada
pembelajaran fisika,
b. Memiliki keterampilan menerapkan ilmu fisika
dalam kehidupan sehari-hari
c. Mendapatkan tambahan uang saku dari hasil
penjualan sayuran dari media tanam alternatif yang sudah di buat.
d. Mampu berwirausaha dirumahnya meskipun belum
lulus sekolah
3. Untuk sekolah
a) Dari best practice ini sekolah bisa
memunculkan kebijakan baru tentang peduli lingkungan pada setiap
program-program disekolah.
b) Terkuranginya sampah an organik yang
berserakan
c) Setiap kelas menjadi sejuk karena banyaknya
bunga gantung yang memanfaatkan sampah an organik
d) Media tanam alternatif ini bisa dijadikan sumber belajar bagi mata
pelajaran lain
4. Untuk masyarakat
a) Pencemaran air dan kemungkinan banjir bisa
terkurangi
b) Bisa menciptakan lapangan pekerjaan baru
sehingga bisaa mengurangi jumlah pengangguran
c) Mendapatkan media tanam alternatif murah yang
ramah lingkungan
d) Mendapatkan sayuran yang organik
BAB II
PELAKSANAAN
A.
Deskripsi
dan Ruang Lingkup Best Practice
Best practise ini mengangkat pembelajaran fisika yang peduli lingkungan
dan aplikasinya bisa digunakan dalam kehidupan sehari-hari dengan mudah, murah
dan bermanfaat. Judul best practise ini
adalah “Fluida sebagai Media Tanam
Alternatif dengan Memanfaatkan Sampah An Organik.” Artinya pada pembelajaran
fisika kali ini menekankan pada pendidikan life skill atau kecakapan hidup yang
berorientasi pada pelajaran fisika utamanya materi fluida tentang gejala
kapilaritas.
Bahan – bahan yang diperlukan dalam pembelajaran fisika kali ini antara
lain adalah sebagai berikut:
1. Media presentasi materi fluida untuk
penanaman konsep dasar tentang fluida pada siswa.
2. Alat demonstrasi pembuktian gejala
kapilaritas yang terdiri dari gelas ukur, pipa kecil, air warna, tisu, kain
perca fanel.
3. Media tanam alternatif, yang alat dan
bahannya terdiri dari:
·
Gambar 2.1
Gelas plasti, botol air mineral dan sterofoam
bekas tempat anggur
·
solder, untuk melubangi botol air mineral dan
sterofoam
gambar
2.2
solder
dan botol air mineral yang sudah dilubangi
·
Rockwoll sebagai media semai.
Gambar
2.3 rockwoll
·
Kain fanel sisa, untuk mengalirkan air dan nutrisi
ke tanaman. Proses naik nya nutrisi dan air dari media menuju tanaman melalui
kain fanel inilah yang merupakan penerapan gejala kapilaritas.
Gambar 2.4 kain fanel
sisa
·
Benih tanaman, untuk di semaikan dan ditanam di
media
Gambar
2.5 benih tanaman
·
Nutrisi
atau bisa juga digunakan MOL (Mikro Organisme Lokal) keong mas. Keong mas
banyak sekali di sawah sekitar SMA Negeri 2 Trenggalek. Keong mas merupakan
hama tanaman padi yang sangat merugikan petani.
Gambar 2.6 mol keong mas
Batasan-batasan yang diberikan dalam kegiatan best practice kali ini
antara lain adalah sebagai berikut:
1. Pembelajaran fisika yang diterapkan adalah
fluida statis, tepatnya gejala kapilaritas.
2. Sampah an organik yang digunakan adalah botol
air mineral bekas, gelas plastik bekas, gelas air mineral bekas, sisa perca
kain fanel
3.
Fluida
yang digunakan adalah air dan air yang dicampur nutrisi
4.
Karakter
siswa yang dibangun dalam kegiatan best practice ini adalah kemandirian,
setelah penerapan pendidikan life skill pada pembelajaran fisika ini
dilaksanakan, yang pada akhirnya akan muncullah karakter kewirausahaan.
B.
Langkah-langkah
Pelaksanaan Best Practice
Pelaksanaan kegiatan best practice ini berlangsung pada semester ganjil
tahun pelajaran 2017/2018 selama bulan Oktober. Adapun langkah – langkah
pelaksanaan best practice adalah sebagai
berikut:
1. Penulis mencari informasi tentang isu lokal Kabupaten
Trenggalek, asumsi siswa dan masyarakat tentang life skill melalui pembelajaran
fisika
2. Menetapkan fokus dari best practice yaitu
pendidikan life skill pada pembelajaran fisika
3. Menetapkan judul best practice yaitu “Fluida sebagai Media Tanam
Alternatif dengan Memanfaatkan Sampah An Organik.”
4. Membuat RPP fisika peduli lingkungan
5. Melaksanakan pembelajaran yang diawali dengan
pemberian materi tentang fluida
Gambar 2.7 penyampaian materi fluida
6. Menjelaskan tentang langkah-langkah
pembelajaran
7. Siswa diinteruksikan duduk dengan kelompoknya
masing-masing
8. Masing-masing kelompok mempersiapkan alat dan
bahan yang dibutuhkan
Gambar
2.8 siswa menyiapkan alat dan bahan
9. Setiap kelompok membuktikan gejala
kapilaritas dengan cara menyelupkan tisu dan kain fanel ke dalam air, dan
mengamati apa yang terjadi dengan air tersebut.
Gambar 2.9 pembuktian gejala kapilaritas
10. Setiap kelompok mempersiapkan media semai
yaitu rockwoll yang di potong dadu tapi tidak terputus dan selanjutnya melakukan
penyemaian bibit ke media
Gambar 2.10 penyemaian
11. Setiap kelompok membuat media tanam dari
sterofoam dan botol air muneral dengan cara melubangi tutup sterofoam, gelas
plastik bekas dan botol air mineral
12. Memasangkan kain fanel pada gelas plastik
yang sudah dilubangi dan menyusunnya didalam sterofoam dan botol air mineral
yang sudah dilubangi.
13. Menyusun jadwal pemindahan bibit tanaman dari
media penyemaian ke media tanam alternatif
14. Menyusun jadwal piket perawatan tanaman
Gambar 2.12 masa perawatan
15. Menyusun jadwal pemberian nutrisi
16.
Memanen hasil
gambar 2.13 panen
C.
Hasil yang Dicapai
Hasil yang dicapai pada best practice ini adalah terciptanya media tanam
alternatif dari sampah an organik yang merupakan haril dari aplikasi materi
fluida tentang gejala kapilaritas, yang membuktikan bahwa pembelajaran fisika
juga peduli pada lingkungan
D.
Nilai Penting dan Kebaruan Best Practice yang telah dilaksanakan
Nilai penting dan
kebaruan best practice yang telah penulis laksanakan adalah sebagai berikut:
1.
Membuktikan bahwa penerapan ilmu
fisika tidak sulit tapi mudah dan murah.
2.
Membuktikan bahwa prinsip dasar dari
media tanam hidroponik berasal dari konsep fisika fluida tentang gejala
kapilaritas. Jadi dalam pertanian tidak hanya biologi yang di pakai tapi fisika
bisa juga ikut mendasari konsepnya.
3.
Dalam pembelajaran fisika bisa juga
ikut peduli pada lingkungan dengan cara ikut mengurangi penyebab terjadinya isu
lokal di kabupaten Trenggalek yaitu seringnya terjadi banjir.
4.
Fisika bisa menyiapkan siswa untuk
membuka lapangan pekerjaan baru yang pada akhirnya dapat mengurangi jumlah
pengangguran pasca SMA yang tidak melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi.
E.
Faktor – faktor Pendukung dan
Penghambat
Pada pelaksanaan
kegiatan-kegiatan best practise ini memiliki faktor-faktor pendukung antara
lain:
1.
Adanya dukungan penuh dari kepala
sekolah karena pembelajaran ini berbasis pada peduli lingkungan yang mendukung
terwujudnya misi misi SMAN 2 Trenggalek.
2.
SMA Negeri 2 Trenggalek merupakan
sekolah Adiwiyata tingkat Nasional
3.
Adanya semangat dari siswa untuk memiliki
keterampilan terapan dalam kehidupan sehari-hari sebagai dasar kewirausahaan
4.
Adanya dukungan penuh dari tim
adiwiyata sekolah karena pembelajaran ini bisa mengurangi atau memanfaatkan
kembali sampah an organik yang ada di sekolah.
5.
Adanya dukungan dari orang tua karena
siswa bisa menerapkan keterampilan dalam pembuatan media tanam alternatif di
rumah serta menanam sayur organik mulai dari penyemaian sampai dengan panen di
rumah, meskipun hanya untuk konsumsi sendiri.
F.
Tindak Lanjut
Dengan mengikuti pendidikan life skill pada pembelajaran fisika, siswa
memiliki pengalaman dalam menerapkan ilmu fisika dalam kehidupan sehari-hari
sehingga setelah selesai pendidikan di jenjang SMA dan kemungkinan tidak dapat
melanjutkan maka siswa mampu menciptakan lapangan pekerjaan baru, menjadi siswa
yang mandiri, berprestasi dalam berwirausaha.
BAB III
Simpulan
dan Saran
A.
Simpulan
Simpulan yang di dapatkan dari keseluruhan kegiatan-kegiatan dalam best
practice ini adalah:
1. Terlaksanakannya pembelajaran fisika yang peduli pada
lingkungan
2. Dengan adanya pemanfaatan sampah an organik
sebagai salah satu media tanam alternatif, maka dapat mengurangi sampah an
organik yang tidak termanfaatkan
3. Siswa berhasil membuat media tanam alternatif
dari sampah an organik yang memiliki konsep dasar dari pembelajaran fisika
fluida tentang gejala kapilaritas.
4. Siswa memiliki keterampilan terapan yang
dapat diterapkan sebelum lulus jenjang SMA ataupun setelah lulus jenjang SMA
5. Terbukti bahwa penerapan fisika dalam kehidupan
sehari-hari itu ternyata mudah, murah, tidak perlu keterampilan khusus dan bisa
menghasilkan pendapatan yang besar.
6. Siswa mampu menciptakan lapangan pekerjaan
baru dengan modal penerapan ilmu fisika, jika nantinya tidak dapat melanjutkan
ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
B.
Saran
1.
Sekolah harus mampu membaca peluang apa saja yang bisa
dilakukan oleh siswa setelah lulus dari SMA
2.
Mulailah dengan mengidentifikasi permasalahan yang ada dalam
pembelajaran baik intra maupun ekstra, sebab setiap sekolah mempunyai masalah
masing-masing dan tidak sama dengan sekolah lainnya.














Jadi konsep hidroponik itu dasarnya dari fisika ya? Terimakasih infonya kakak !! Uwuwuwuuuwuwuwu
BalasHapusiya kk.. pake prinsip kapilaritas. sama-sama kak
BalasHapus